Indonesia kaya akan sumber daya alam (SDA) dan dunia tahu itu. Makanya negara maju jadikan Indonesia sebagai target eksploitasi demi kepentingan mereka (Asing). Indonesia cuma dapat sedikit saja.

Anehnya, mayoritas rakyat Indonesia masih saja terpedaya dengan permainan isu dan rekayasa global. Antar sesama pun saling bermusuhan hanya karena perkara yang tidak substansial. Banyak yang tidak mau tahu apa di balik kisruh KPK vs Polri, Ahok vs DPRD, Jokowi vs Megawati, dan yang lain. Karenanya, wajar di saat pribumi asyik saling berseteru, Indonesia (baca: kita) kehilangan sumber daya alam. Tragis, bukan?

Seperti dilansir Rmol, Pakar kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy, meminta para pejabat DKI Jakarta tidak mudah diadu domba dalam polemik APBD DKI Jakarta yang berkepanjangan.

Hal itu dikatakannya dalam diskusi “Deadlock Ahok” di Cikini, Jakarta, Sabtu (7/3).

Noorsy juga sempat mengkritik gaya Gubernur DKI Jakarta, Basuki Purnama alias Ahok yang tidak mau menyelesaikan persoalan dengan cara dialog dan memainkan “zero-sum game negatif” yang tidak menunjukkan keteladanan.

Noorsy juga meminta masyarakat tidak mudah larut dalam konflik yang terjadi antar DPRD dan Gubernur Jakarta.

“Jangan ribut seperti sekarang lalu tiba-tiba Freeport diperpanjang, jangan mau diadu domba. Karena begitu diadu domba maka sumber daya alam kita diambil. Itu fakta,” seru Ichsanuddin.

Menurut dia lagi, kalau semua pihak berkontribusi pada kegaduhan politik ini maka ketidakamanan masyarakat akan terus terjadi.

“Maka Anda akan lihat begal terus berjalan. Begal itu adalah protes kepada sistem yang eksploitatif luar biasa. Mereka kesulitan luar biasa,” demikian tegas Noorsy persis di laporkan Rmol.

Nah, jika sesama warga pribumi saling adu jotos atau saling menghina dan membully, siapakah yang rugi? Indonesia.

Selain pertanyaan diatas, siapakah yang pantasi disalahkan?

Ketika sesama yang berseteru disibukkan mencari siapa yang salah dan menghabiskan waktu, lalu ketika sadar, eh sumber daya alam (SDA) Indonesia sudah habis di curi maling atau di obral murah kepada asing atau aseng. [sal]