Sampai saat ini tidak ada tindakan dan kebijakan ekonomi yang dilakukan Pemerintah Joko Widodo untuk meredam semakin jebloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

“Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) seharian kemarin bergerak di kisaran Rp 13.000/US$. Nilah tukar rupiah ini merupakan yang terlemah sejak 17 tahun terakhir walaupun ditutup dengan nilai tukar rupiah di pasar on the spot turun menjadi Rp 12.980. Tetapi harga beli mata uang US dolar di Money Changer dan bank sudah menjadi Rp 13.150 per dolar US,” ujar Ketua DPP Gerindra, FX Arief Poyuono, (Jumat, 6/3).

Malah Menko Ekonomi dan tim ekonomi Jokowi lainnya terlalu menganggap remeh jatuhnya nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing tersebut. Hal itu menunjukkan tim ekonomi Jokowi tidak mampu menurunkan nilai mata uang dolar terhadap rupiah .

“Maklum saja mereka secara personal memang bukan orang tepat untuk bisa meredam nilai rupiah yang berubah-ubah tidak stabil yang akan sangat mempengaruhi ekonomi makro  Indonesia,” jelas Arief.

Jika Pemerintah Jokowi tidak punya portfolio yang jelas tentang kebijakan ekonomi, dia menambahkan, nilai tukar rupiah akan terus menukik dan akan berdampak pada  menurunnya permintaan masyarakat terhadap mata uang rupiah karena menurunnya peran perekonomian nasional atau karena meningkatnya permintaan mata uang asing sebagai alat pembayaran internasional.

“Dampak yang akan terjadi adalah meningkatnya biaya impor bahan bahan baku. Dan berdampak pada harga produk dan jasa yang semakin mahal,” ucapnya.

Nilai tukar rupiah yang melemah juga akan meyebabkan tingkat suku bunga, dimana akan terjadi meningkatnya nilai suku bunga perbankan yang akan  berdampak pada perubahan investasi di Indonesia. “Dan ini sudah terbukti dengan suku Bunga KUR (Kredit Usaha Rakyat ) hingga 21% pertahun,” terangnya.

Nilai tukar rupiah yang melemah juga berakibat pada tingginya inflasi dan meningkatnya harga-harga secara umum dan kontinu, akibat komsumsi masyarakat  yang meningkat, dan berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi dan spekulasi.

“Jika ekonomi nasional mau selamat, satu satunya cara yang harus dilakukan Jokowi adalah menganti semua tim ekonominya yang telah gagal dan kurang diterima Pasar. Itupun kalau Jokowi berani,” tegasnya, demikian di laporkan Rmol.

Lalu, bicara dolar Rp. 13.000, maka rakyat tidak pernah lupa dengan perkataan pengamat yang sebut, Jika Prabowo jadi presiden dolar menjadi Rp.13000. Hal ini seperti diberitkan oleh Tempo pada hari Senin, 07 Juli 2014, denga judul: “Prabowo Menang, Rupiah Berpotensi Tembus 13 Ribu” dan berikut penggalan beritanya:

Kurs rupiah terhadap dolar AS diperkirakan menembus 13 ribu bila pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa terpilih menjadi presiden-wakil presiden. Analis dari Investa Saran Mandiri, Kiswoyo Adi Joe, mengatakan pelaku pasar akan melihat sosok pemenang pemilihan presiden sebelum melakukan transaksi. Jika pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menang, rupiah akan cenderung bergejolak.   

Rendahnya tingkat kepercayaan pasar terhadap pasangan Prabowo-Hatta diperkirakan membuat banyak investor meninggalkan pasar, sehingga tingkat beli dolar akan tinggi. Kurs bisa menembus Rp 12.500 per dolar Amerika. “Dalam kondisi itu, Bank Indonesia harus melakukan intervensi, sebab berpotensi jatuh hingga Rp 13 ribu per dolar AS,” kata Kiswoyo ketika dihubungi Tempo, Ahad malam, 6 Juli 2014.

Jadi, sangat wajar jika tim ekonomi Jokowi anggap remeh dengan anjloknya nilai tukar rupiah terhadap dolar. Lantaran saat ini Presiden Indonesia adalah Prabowo yang menyamar jadi Jokowi, bukan? Eh, tetap saja akun @mahendradatta berkicau : “Sy kasih tahu, US Dollar tembus Rp 13 rb dan Presidennya bukan Prabowo lho #eh.” [sal]