Banyak yang bertanya, presidennya Jokowi atau Prabowo sih?

Pasalnya, dulu Prabowo-lah yang di tuding sukseskan dolar keangka Rp.13.000 jika menjadi presiden. Sedang Jokowi di prediksi akan mampu tekan dolar ke harga Rp.10.000 jika jadi Presiden.

Tapi itu masa lalu, kini yang terjadi, justru sebaliknya, Prabowo tak jadi Presiden tapi dolar tembus ke angka Rp.13.000. Sungguh aneh, bukan?

Ketika rupiah anjlok ke angka Rp.13.000 perdolar, Jokowi sempat katakan itu semantara saja.

Dikutip laman Aktual, Presiden Joko Widodo (Jokowi) berharap kondisi tersebut (dolar 1300 -red) hanya sementara. “Perkembangan kurs, tadi kita mendapatkan laporan dari Gubernur BI, dan kita semua berharap agar itu bersifat sementara. Ini dipicu penguatan dolar AS pada semua mata uang dunia. Dan dilihat nanti seperti apa,” jelas Jokowi di Press Room, Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/3/2015).

Tiga hari berselang, Kamis (5/3), kini dolar naik menjadi Rp.13.052. Inilah mungkin yang disebut dengan Jokowi Effect.

Seperti dilansir Okezone (5/3), nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka melemah. Rupiah pagi ini langsung menembus pelemahan terendahnya di Rp13.052 per USD.

Melansir Bloomberg Dollar Index, Kamis (5/3/2015), Rupiah pada perdagangan non-delivery forward (NDF) bergerak langsung melemah Rp29 poin atau 0,23 persen ke Rp13.019 per USD dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp12.990 per USD.

Pada pembukaannya, tercatat di level Rp12.999 per USD. Dengan pergerakan harian di kisaran Rp12.999-Rp13.052 per USD.

Sementara itu menurut pantauan Peka News, Google melalui mesin pencarinya menyatakan dolar menyentuh angka Rp.13030.

Gubernur BI Sudah Mewanti – wanti

Serangan dolar kepada rupiah yang bertubi – tubi, sebelumnya Gubernur BI Agus Mastowardojo sudah mewantinya. Ia menyatakan Indonesia harus siap atas serangan mata uang dolar, pada saat itu dolar belum sentuh angka Rp.13.000.

“Kita harus siap ke depan akan ada depresiasi karena dolar terjadi penguatan dan di dunia AS merupakan ekonomi yang betul-betul sedang perbaikan dibandingkan negara lain, jadi kita harus menerima kondisi bahwa Amerika akan menguat dan currency lain akan melemah. Tetapi Indonesia di arah yang baik,” ungkapnya Jumat (27/2/2015). (baca, Rupiah Terpuruk, Gubernur BI: Indonesia Harus Siap Serangan Dolar)

Dari kejadian ini, masihkah pemerintah Jokowi cari “kambing hitam”? [sal]