Terjadi kebingungan di masyarat atas sikap pemerintah dalam merespon pelemahan rupiah terhadap dolar. Di satu sisi PLN sebagai perusahaan negara nyatakan rugi akibat rupiah melemah, sedang Menteri Keuangan sebut tak cemas belanja negara jebol karena pelemahan rupiah.

PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengungkapkan, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) membuat perseroan rugi hingga Rp1,3 triliun.

Senior Manager Corporate Communication PLN Bambang Dwiyanto mengatakan, meski kerugian tersebut masih harus dihitung dalam laporan keuangan, namun diperkirakan elastisitasnya hingga menyentuh Rp1,3 triliun.

“Kerugian nanti dihitung di laporan keuangan, tapi elastisitasnya itu kira-kira kalau ya kerugiannya Rp1,3 triliun kayak Pak Sofyan (Sofyan Basir-Dirut PLN) bilang, dari pelemahan rupiah beberapa minggu ini,” ucapnya di Kantor Pusat PLN, Jakarta, Kamis (12/3/2015).

Dia mengatakan, pelemahan rupiah yang berdampak cukup besar terhadap kinerja perusahaan ini lantaran beberapa komponen spare part pembangkit listrik yang masih harus diimpor dari luar negeri. Selain itu, beberapa utang perseroan pun masih menggunakan mata uang dolar.

“Ngaruh sekali (pelemahan rupiah). Kita kan banyak utang dalam dolar, kewajiban dalam dolar. Impor spare part, spare part kendaraan, komponen kelistrikan semua pakai dolar,” pungkas dia, demikian dilaporkan Sindonews.

Sedangkan menurut Menteri Keuangan, pelemahan rupiah justru nilai positif bagi APBN.

Di tengah terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro datang dengan komentar yang menyejukkan. Ia menuturkan, setiap pelemahan nilai tukar justru akan memberikan surplus terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara.

“Jadi tidak membahayakan anggaran,” katanya seperti dilansir Tempo.

Sedang Merdeka mengabarkan, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro tak cemas tren pelemahan rupiah terhadap dolar AS bakal bikin anggaran belanja negara jebol. Sebab, pemerintah sudah tak lagi menanggung subsidi bahan bakar minyak.

“Kalau gejolak rupiah ini terjadi tahun-tahun sebelumnya maka APBN akan menggelembung. Pemerintah harus merespon apakah menaikkan harga BBM atau memotong belanja tapi itu history (sejarah),” katanya di Istana Negara, Rabu (11/3).

Pertanyaannya adalah, apakah kerugian yang di alami oleh PLN Rp. 1,3 triliun akibat rupiah terpuruk tidak menjadi beban negara? Pastinya. Lalu bagaimana Menkeu sebut APBN masih aman? Disini kadang masyarakat merasa tak paham. [sal]