Dengan cara sembunyi – sembunyi,  pemerintah naikkan harga BBM mulai 1 Maret 2015 kemarin, harga BBM mengalami penyesuaian. Untuk premium naik Rp 200 dari Rp 6.600 menjadi Rp 6.800. Khusus untuk wilayah Jawa dan Bali harganya lebih mahal seratus rupiah, yaitu Rp 6.900 per liter. Harga pertamax juga mengalami kenaikan Rp 200 menjadi Rp 8.250 per liter. Sedangkan untuk solar dan minyak tahan harganya tetap, masing-masing Rp 6.400 dan Rp 2.500 per liter.

Menurut pengamat ekonomi Ihsanuddin Noorsy, kenaikan harga BBM tersebut menunjukkan ekonomi Indonesia masih didikter pasar dan pemegang modal. Padahal, berdasarkan konstitusi, untuk hajat hidup orang banyak, pemerintah tidak boleh melepaskan ke harga pasar.

Dampaknya bukan hanya kebingunan di masyarakat, tapi juga kedaulatan ekonomi kita. Dengan kondisi ini, untuk kebutuhan masyarakat saja, kita didikte pasar, didikte pasar modal, dan didikte pengusaha-pengusaha minyak internasional,” tandasnya. Jadi, kapan rezim boneka Neolib ini diturunkan?

Kenaikan harga bensin premium per 1 Maret 2015 kemarin yang menjadi Rp.6.800,- per liternya dianggap sangat mahal karena tidak sesuai dengan harga minyak dunia. Mestinya, harga bensin hanya berkisar antara Rp 4.850-Rp 5.850, demikian pengamat dan analis ekonomi Ihsanuddin Noorsy, sebagaimana di lansir Rmol.

“Jadi kemahalan. Ini malah rakyat yang harus memberi subsidi sebesar Rp 1.100 per liter kepada pemerintah,” kata analis ekonomi dan politik Ihsanuddin Noorsy . [eramuslim/pkn]
 
 

Advertisements