Beginilah Cara ‘Tempo’ Manipulasi Berita dan Bodohi Publik Demi Citra Ahok

Posted on

Media Massa sejatinya adalah menyampaikan kebenaran kepada publik. Dengan begitu publik akan tercerahkan wawasannya. Namun apa yang terjadi saat ini adalah, media cendrung menjadi alat propaganda kekuasaan terntentu, yang pada akhirnya informasi yang disajikan menjadi bermuatan politis, tak jarang menyesatkan publik.

Kejadian tersebut, dilakukan oleh media sekelas Tempo terkait pemberitaan hasil survei lembaga Populi Center yang nyatakan Ahok sebagai Kepada Daerah Terbaik Se-Indonesia.

Berita tersebut sudah pernah dipublikasi Tempo pada Senin, 09 Februari 2015 lalu, karena Ketua Populi Center Nico Harjanto menyampaikan hasil surveinya pada waktu yang sama. Dan surveinya sendiri dilakukan pada tanggal 16-22 Januari 2015, sekitar 3 bulan yang lalu.

Yang membuat aneh adalah, media Tempo mempublikasikan berita tersebut -lagi- pada tanggal 8 April 2015 melalui laman Sosial Media Twitter. Diketahui bahwa 1 hari sebelumnya (7/4) telah terjadi saling ‘sindir’ antara Walikota Surabaya Tri Rismaharini dengan Ahok selaku Gubernur DKI Jakarta. Dan yang membuat aneh adalah, sebelum dan sesudah berita tersebut, Tempo sampaikan berita yang betul – betul baru dan segar.

Perlu diketahui, hasil survei Populi Center menyatakan sebagai berikut.

Nico mengatakan urutan kepala daerah yang dinilai positif oleh responden adalah Ahok yang mendapat dukungan 22,3 persen, Risma (18,2 persen), Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan (8,4 persen), Pelaksana Tugas Gubernur Banten Rano Karno (6,8 persen), dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo (6,8 persen). Berikutnya ialah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dengan perolehan suara 6,2 persen, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (5,2 persen), Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo (2,2 persen), dan Wali Kota Bogor Bima Arya (0,4 persen). Sebanyak 2,5 persen responden memilih kepala daerah lain. Sedangkan 20,9 persen responden lain tak menjawab. (Tempo/2-feb-15)

Dalam pemberitaan tersebut, Tempo sepertinya sedang membangun kembali opini dan citra Ahok di mata publik berdasarkan berita yang dinilai sudah basi. Ya, berita tanggal 9 Feb 2015 tentu tidak relevan lagi jika di publikasikan pada tangga 8 April 2015. Alasannya adalah:

Citra Ahok 3 bulan lalu jelas amat berbeda dgn kondisi hari ini. Blunder tindakan/perkataan yg tiada henti pasti telah menggerusnya.


Kalau hari ini Lembaga Populi Center itu melakukan survei serupa, pasti hasilnya akan jauh berbeda. Saya yakin RISMA lah pemenangnya!


Dengan demikian menjadi mudah bagi kita untuk menebak “motivasi” @tempodotco (Tempo-ed) mengangkat kembali berita soal Ahok yg jelas2 sdh BASI itu.  


Fakta ini menjadi bukti bahwa @tempodotco (Tempo-ed)) ternyata memang salah satu media “buzzer” Ahok. Dan kita paham, gak ada “buzzer” yg gratisan.


Dari segi konten berita, hasil survei itu mgkn mmg benar , tapi sengaja menyajikan berita basi adalah bentuk lain upaya manipulasi!


Media spt @tempodotco (Tempo-ed) ini mestinya tak lagi punya legitimasi mengklaim dirinya sebagai media edukasi yg kredibel dan independen.


..’manipulasi opini’ yg dilakukan @tempodotco (Tempo-ed) dkk itu bisa jadi jauh lebih rapi dan sistematis daripada yg kita bayangkan.

Itulah beberapa alasan yang di sampaikan akun @SangPemburu99 terkait mengkritisi pemberitaan basi Tempo. Ya, beginilah cara Tempo menyajikan berita kepada publik demi citra manusia yang bernama Ahok. Amat disayangkan, bukan?

Untuk lebih jelasnya, silahkan baca ulasannya di sini. [sal]

 
 

Silahkan Berkomentar