Ratusan mahasiswa Jember yang tergabung Aliansi Mahasiswa Bermasyarakat (AMB) mendemo pemerintahan Presiden Joko Widodo, Rabu (8/4/2015).

Aksi dipusatkan di bundaran DPRD Jember dan halaman DPRD.

Aksi mahasiswa sempat memacetkan lalu lintas. Bahkan empat jalur di bundaran DPRD Jember sempat ditutup sekitar 15 menit.

Kendaraan dari arah Jalan Jawa, Kalimantan, Sumatra dan Bengawan Solo terpaksa putar balik karena mahasiswa membentuk lingkaran hingga menutup jalan.

Dalam aksinya mahasiswa menyuarakan empat tuntutan yakni nasionalisasi aset dan kemandirian ekonomi, transparansi dan perbaikan tata kelola anggran, kedaulatan hukum dan politik, serta turunkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM), seperti dilansir tribunnews.com (8/4).

Demo yang dilakukan mahasiswa tersebut mendapat perlakuan represif dari pihak kepolisian.

Seperti dilansir beritajatim.com (8/4), Puluhan petugas kepolisian menghajar para mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Bermasyarakat itu. Mereka menghalau para mahasiswa yang ingin masuk ke gedung DPRD Jember.

Kerusuhan pecah setelah polisi melarang mahasiswa membakar ban. Mahasiswa melakukan perlawanan, dan pentungan aparat kepolisian pun beraksi. Batu beterbangan. Namun kericuhan tak berlangsung lama.

Dua orang mahasiswa terluka, karena terkena pukul dan pentung. Mereka adalah Imelda dan Yahya (mahasiswa FISIP Universitas Jember). Kepala mereka bocor terkena pentungan, dan harus dirawat pusat medis Unej.

“Kita sangat menyayangkan tindakan represif. Tidak akomodatif. Kami hanya ingin masuk ke halaman gedung DPRD Jember,” kata salah satu aktivis, Leksono Kunto Wibisono.

Mahasiswa akan melakukan aksi lanjutan Rabu malam dan Senin pekan depan. Isunya sama: evaluasi kinerja pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla. “Nanti malam kami akan menggelar aksi lilin refleksi renungan kebangsaan,” kata Kunto. [sal]
 
 

Advertisements