Adalah kewajiban seorang pemimppin untuk melindungi rakyatnya, baik kebutuhan makan, minum sampai kebutuhan pendidikan dan lain sebagainya. Tapi selain semua itu, perlindungan terhadap nyawa rakyat pun menjadi kewajiban mutlak seorang pemimpin dalam sebuah negara.

Indonesia dengan 240 juta jiwa, kini di pimpin oleh presiden yang bernama Jokowi dan wakil presiden Jusuf Kalla. Berarti ada ratusan juta nyawa yang menjadi tanggung jawab mereka.

Anehnya, nyawa rakyat Indonesia seperti tak begitu dipedulikan oleh Jokowi selaku presiden, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Usia pemerintahan Jokowi yang belum cukup 6 bulan ada kejadian yang begitu memilukan.

Di dalam negeri, satu keluarga meninggal dunia bunuh diri karena tekanan ekonomi keluarga menjadi peringatan agar pemerintah peduli atas kesulitan hidup rakyat. Aksi bunuh diri satu keluarga tersebut terjadi pada 3 April 2015 lalu di daerah Kediri,  Jawa Timur.  Kartu sakti Jokowi ternyata tak sakti mengatasi masalah ekonomi rakyat.

Jawa Pos Radar Kediri melaporkan, status penganggur karena mengundurkan diri sebagai sales perusahaan farmasi dua bulan lalu membuat Yudi resah. Keuangan keluarga yang menjadi tanggung jawabnya pun langsung morat-marit. Apalagi satu-satunya sumber keuangan dari penghasilan istrinya, Fajar Retno, 38, yang bekerja sebagai supervisor di sebuah perusahaan farmasi, terhenti. Sebab, Retno ikut mengundurkan diri tanpa alasan yang jelas.

Yudi sudah berupaya bertahan dengan bekerja serabutan. Dia pun pindah rumah dari kontrakan di Kelurahan Semampir, Kecamatan Papar, Kabupaten Kediri, ke rumah orang tua di Desa Minggiran di kecamatan yang sama. Namun, semua usaha itu dirasa belum cukup. Sebab, mereka juga harus menanggung kebutuhan Ola, 7, anak semata wayang Yudi dan Retno yang baru kelas 1 SD. Di luar dugaan, kesusahan hidup tersebut membuat Yudi patah harapan.

Jumat (3/4/2015) sekitar pukul 20.00, jasad Yudi ditemukan terbujur kaku bersama jasad Retno dan Ola.

Tahukah Presiden Jokowi akan informasi satu keluarga bunuh diri tersebut? Jika tahu kenapa tidak ada pernyataan bela sungkawa? Intinya, Jokowi tak peduli dengan nyawa rakyat Indonesia. Titik.

Jadi, jangan berharap Jokowi peduli dengan nyawa Siti Zainab di Arab Saudi yang di hukum pancung pemerintahan Saudi pada 14 April 2015 waktu setempat. Untuk tahu saja, Jokowi pun tidak tahu. Hal ini memang lucu, bagaimana bisa seorang presiden tidak tahu rakyatnya mau di hukum mati di negara lain. Sungguh diluar batas nalar.

Betapa hancurnya perasaan jadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) walau dujuluki sebagai “Pahlawan Devisa” namun nyawanya tak di pedulikan Jokowi.

Yang malah membuat aneh, Presiden Jokowi malah menyalahkan negara Arab Saudi yang di tuding melakukan hukuman mati secara diam-diam. Apa tidak lebih baik Jokowi protes ke Arab Saudi saat nyawa Siti Zainab belum melayang? Harusnya.

Saat ini, kita patut salut dengan negara Australia yang begitu menjaga nyawa warganya di Indonesia terlepas mereka salah atau benar.

Dan seharusnya negara Indonesia pro aktif dalam melindungi warganya baik di dalam maupun di luar negeri. Faktanya, yang dilakukan Jokowi, adalah malah melindungi nyawa warga negara Australia (Duo Bali Nine) gembong narkoba dari pada peduli dan melindungi nyawa rakyat Indonesia sendiri. Jika melihat kejadian ini, betul kata Megawati, ternyata Jokowi cuma “Petugas Partai”. [sal]