Sebuah penegasan dari Peneliti senior Indonesia Academy of Sciences, Prof Bambang Hidayat terkait gerhana matahari total pada 9 Maret 2016 lalu. Bambang menegaskan bahwa gerhana matahari tersebut tidak mempengaruhi jadwal pelaksanaan bulan suci Ramadan tahun ini.

Ia menambahkan, perhitungan waktu, baik itu saat terjadi gerhana maupun bulan puasa, para astronom dahulu sudah memperhitungkannya. Jadi, ini bersifat permanen. Kendati, lanjut dia, penentuan bulan menjadi kritik utama saat ini.

“Enggak ada. Itu dua hal berbeda. Saya melihatnya karena gerhana matahari diramal oleh astronom menunjukkan bahwa ramalannya tepat. Kenapa terbitnya bulan tidak bisa diramal? Mestinya ada,” ungkap Bambang di sela-sela International Symposium on Sun, Earth and Life (ISSEL) di aula Timur Institut Teknologi Bandung (ITB), Jalan Ganesha, Kota Bandung, Jawa Barat, Jumat, 3 Juni 2016, dilansir Viva.

Selain itu, adanya sidang khusus penentuan jadwal puasa, menurutnya masih menjadi polemik tersendiri. Pasalnya, lanjut dia, para astronom terdahulu sudah akurat dan data yang tersaji hingga saat ini masih relevan.

“Untuk 100 tahun itu ada dan kenapa mesti dirapatkan, malam sebelum Ramadan. Menurut saya, data itu sudah ada, baik, akurat dan cermat,” tegasnya.

Diwartakan sebelumnya, Kementerian Agama akan menggelar sidang Isbat penentuan awal Ramadan 1437 Hijriah pada Minggu 5 Juni 2016 mendatang. Kemenag mengundang sejumlah tokoh dan ahli pada sidang isbat di kantor Kemenag, Jakarta.

“Nanti kami mengundang para tokoh agama, ulama, ahli ilmu falak, astronomi dan sebagainya untuk melihat posisi hilal pada saat itu,” kata Menteri Agama, Lukman Hakim Saifuddin, di Bandung, Kamis 2 Juni 2016.

Pada saat sidang Isbat berlangsung, Menteri Agama akan menerima laporan dari para petugas pemantau hilal di sejumlah titik di seluruh wilayah Tanah Air. Setelah mendapat laporan riil dari tim pemantau hilal, pemerintah segera menentukan keputusan penetapan awal Ramadan 1437 Hijriah.

“Kalau ada yang melihat hilal, tentunya pada malam hari itu sudah masuk 1 Ramadan sehingga besoknya kita berpuasa. Tapi kalau tidak ada satu pun melihat hilal, itu artinya kita menggenapkan Sya’ban menjadi 30 hari ijtima, lalu awal puasa itu lusanya,” papar Lukman.

Lukman berharap pelaksanaan sidang Isbat, 5 Juni 2016, berlangsung lancar tanpa ada perdebatan alot. Sehingga setelah itu pemerintah bisa menentukan dan mengumumkan 1 Ramadan kepada masyarakat. “Mudah-mudahan nanti ada yang melihat hilal,” ujarnya.