Meski para partai politik pendukung Ahok di Pilkada DKI 2017 tetap mendukung, tidak mampu menepis terjadi penurunan elektabilitas Ahok pasca di tetapkan sebagai tersangka kasus penistaan agama.

Berdasarkan hasil rilis terbaru Lingkaran Survei Indonesia (LSI Denny JA) menunjukkan elektabilitas pasangan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat kian anjlok. Bahkan, dukungan terhadap calon petahana itu hanya tinggal 10,6 persen.

Peneliti LSI Ardian Sopa mengungkapkan, setidaknya ada 5 alasan mengapa pemilih “meninggalkan” pasangan incumbent tersebut.

Pertama, karena efek surat Al Maidah. Sejak menjadi viral, video pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang menafsirkan surat Al-Maidah ayat 51 memunculkan kontroversi dan dugaan penistaan agama islam. Kontroversi dan protes sebagian besar ummat islam tersebut berujung pada aksi demo besar-besaran sebanyaj dua kali yang menuntut Ahok diperiksa dan diadili.

Kasus dugaan penistaan agama ini menjadi perhatian publik di Jakarta secara luas. Survei LSI menunjukkan sebesar 89,3 persen menyatakan mengetahui. 73,2 persen menyatakan Ahok Salah. 65,7 persen mengatakan Ahok menistakan agama. 63,7 persen mendukung Ahok diproses hukum,” jelas Ardian.

Kedua, tingkat kesukaan Ahok semakin turun. Di survei Maret 2016, tingkat kesukaan Ahok masih sebesar 71,3 persen. Bulan Juli turun menjadi 68,9 persen. Oktober turun lagi menjadi 58,2 persen. Terakhir merosot di November di angka 48,3 persen.

Ketiga, khawatir Jakarta di bawah Ahok penuh gejolak sosial. Personality Ahok yang cenderung konfrontasi/kontroversial dengan pihak yang bersebrangan, ditakutkan masyarakat akan membuat gejolak sosial.

“Berkembang psikologis tak aman jika Ahok tetap terpilih menjadi gubernur,” katanya.

Keempat, Agus dan Anies semakin menjadi pilihan untuk Jakarta yang stabil. Kedua pasangan ini, kata Ardian, mampu untuk menampilkan minimal citra damai, yang akan membuat Jakarta lebih stabil karena tidak ada nya penolakan.

“Gaya dari masing-masing kandidat yang ramah, santun, menjanjikan Jakarta yang lebih stabil,” pungkasnya.

Kelima, citra buruk status tersangka. “Selama ini semua pejabat publik yang menjadi tersangka diminta mundur dari jabatannya. Ini tradisi yang sudah kuat, mereka risih jika tokoh yang tersangka dikampanyekan menjadi pejabat,” sebut Ardian.

Mungkinkah Ahok Bangkit Kembali ?

Selanjutnya >>

Advertisements