Haedar Nashir : Dulu Dianggap Kafir, Kini Muhammadiyah Memiliki Banyak Amal Usaha

Posted on

Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir mengatakan, keberadaan Muhammadiyah di Beltim bukan hanya untuk dikenang. Melainkan harus menjadi inspirasi, roh di hati umat Islam, dan fisabillillah umat Islam di Beltim.

Dia mengatakan sejarah Muhammadiyah di Beltim, ataupun seperti dikisahkan dalam Laskar Pelangi, merupakan kontribusi pergerakan organisasi umat Islam itu untuk Bangka Belitung.

“Di situ ada konstribusi dan amaliyah Muhammadiyah. Mungkin perlu prasasti atau monumen agar tidak hilang dalam sejarah… Sebagai aqsa, jejak yang baik,” ujar Haedar dalam tabligh-nya.

Haedar Nashir hadir pada Milad ke-107 H/104 M Muhammadiyah di Belitung Timur, di Islamic Centre Masjid Ahmad Dahlan, Jalan Ngerawan, Desa Padang, Kecamatan Manggar, Belitung Timur.

Mengenakan batik hijau dan peci hitam, lelaki berkacamata itu menyampaikan bagaimana perjuangan KH Ahmad Dahlan dalam awal pergerakan Muhammadiyah.

Ahmad Dahlan, pada usia 21 tahun saat itu, sudah melakukan sejumlah pembaharuan Islam melalui pergerakan-pergerakan yang mencerahkan, mencerdaskan, dan membebaskan bangsa dari kebodohan.

Beberapa di antaranya adalah meluruskan arah kiblat umat Islam di Indonesia dengan cara-cara ilmiah, bidang kesehetan dengan mendirikan poliklinik, dan mengangkat harkat wanita (yang saat itu direndahkan) melalui pendirian organisasi Aisyiyah.

Ahmad Dahlan juga disebut sebagai pelopor dalam pergerakan pendidikan Muhammadiyah di Indonesia.

“Saat itu juga ditolak, dianggap meniru orang barat, belanda, tapi terus (berjuang). Bahkan dianggap sebagai kafir. Karena saat itu, ada jargon, barang siapa yang menyerupai siapa kaum, dia adalah kaum itu. Dahlan yakin bahwa pendidikan islam itu adalah pendidikan yang maju,” beber Haedar.

Satu abad kemudian, kata Haedar, di pelosok manapun berdiri lembaga pendidikan yang menggabungkan konsep agama dan ilmu pengetahuan, seperti pondok pesantren dan lembaga-lembaga lainnya.

“Semuanya memadukan antara agama dan ilmu pengetahuan,” katanya.

Haedar menuturkan pendidikan bagi umat Islam sebab manusia adalah khalifah di muka bumi.

” Tidak mungkin jadi (khalifah), kalau bodoh dan tidak memiliki pemikiran cerdas,” katanya.

Sumber: Sangpencerah.id
 
 

Silahkan Berkomentar